Berkenalan dengan Kain Tenun Baduy yang Kaya Makna

Sharing is caring!

Indonesia memiliki banyak suku yang menghasilkan berbgai adat dan benda sesuai budaya masing-masing. Salah satunya adalah suku Baduy. Jika Anda mengenal berbagai kain tenun dari Toraja, Jepara, hingga Lombok, suku Baduy juga mempunyai kain tenun khasnya sendiri.

Suku Baduy yang juga kerap dipanggil dengan sebutan Urang Kanekes merupakan kelompok etnis yang tinggal di daerah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy merupakan suku yang mengisolasikan diri khususnya suku Baduy Dalam.

Nama Baduy berasal dari sebutan penduduk luar termasuk peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan suku Arab Badawi yang hidupnya nomaden atau berpindah-pindah. Namun bisa juga diambil dari nama sungai dan gunung yang berada di utara wilayah tempat mereka tinggal.

 

Kain Tenun Baduy yang Penuh Akan Makna

Kegiatan menenun merupakan warisan turun-menurun dari nenek moyang suku Baduy. Perempuan-perempuan Baduy sudah diajarkan menenun sejak dini dan dari kegiatan ini menghasilkan kain Tenun Baduy yang memiliki khas tersendiri.

Biasanya, suku Baduy akan melakukan kegiatan menenun di bagian depan rumah yang disebut sosoro. Pertama-tama mereka akan mengubah kpas menjadi benang.

Suku Baduy bahkan juga membuat alat pemintal kapasnya sendiri sejak ratusan lalu. Alat tersebut dinamakan gedogan atau raraga.

Setelah menjadi benang, barulah benang tersebut ditenun untuk dijadikan kain. Proses menenun biasa dilakukan oleh perempuan. Penunan memang harus dilakukan oleh perempuan, karena dalam masyarakat sekitar ada sebuah mitos dimana pria yang menenun akan memilik tabiat layaknya wanita.

Kain Tenun Baduy tidak hanya digunakan sebagai pakaian adat saja. Namun, kain tersebut memiliki makna-makna yang berhubungan dengan tradisi dan kepercayaan. Bagi suku Baduy, kain tersebut juga berfungsi sebagai identitas yang menunjukkan kehadiran mereka dan penuh dengan nilai-nilai adat.

Kain Tenun Baduy umunya memiliki motif geometris dan juga motif yang terinspirasi dari alam. Kain yang mengungkapkan keindahan pegunungan Kendeng ini memiliki corak yang melambangkan adat istiadat dan sikap hidup yang diwariskan turun-temurun.

Ragam kainnya bermaknakan filososfi hidup masyarakat Baduy.

Bukan hanya kain tenunnya saja yang memiliki makna, tetapi kegiatan menenun itu sendiri memiliki nilai-nilai penting bagi Suku Baduy. Salah satu nilai penting tersebut adalah kedisiplinan.

Setiap perempuan di suku Baduy, akan memiliki kedisiplinan yang tinggi sebab sudah mempelajari berbagai aturan adat dan nilai masyarakat suku Baduy sejak kecil. Melalui kegiatan menenun, masyarakat suku Baduy percaya bahwa perempuan mewujudkan ketaatannya akan adat yang mereka junjung.

Bagi masyarakat suku Baduy Dalam, dalam membuat kain tenun harus menggunakan kapas dan tidak boleh menggunakan mesin jahit. Hal ini karena nantinya kain tersebut digunakan sebagai bahan utama pembuatan baju adat.

Selain itu, warna kain tenun milik suku Baduy Dalam didominasi oleh warna putih. Sebab putih melambangkan kesucian dan aturan-aturan yang belum mendapat pengaruh budaya dari luar.

Berbeda dengan masyarakat suku Baduy Luar yang warna kainnya didominasi oleh warna-warna gelap seperti hitam dan biru tua. Kain juga digunakan untuk membuat baju adat perempuan yang bentuknya menyerupai kebaya.

Untuk menghasilkan kain Tenun Baduy membutuhkan waktu yang lama. Proses pembuatannya bisa sampai berbulan-bulan tergantung besar dan kerumitan motif kain. Namun hasilnya memiliki ciri khas tersendiri yaitu bahan yang agak kasar dan warna yang dominan.

Untuk melihat langsung proses pembuatan kain Tenun Baduy, Anda bisa mengunjungi Kampung Cibeo, salah satu kampung di Kanekes. Di kampung ini, wisatawan dapat mempelajari bagaimana rumitnya membuat kain dengan cara ditenun.

Tidak hanya untuk membuat pakaian adat, Masyarakat Baduy juga menjadikan kain ini sebagai ikat kepala, taplak, atau dekorasi yang nantinya dapat dijual kepada wisatawan sebagai suvenir tanda telah mengunjungi suku Baduy.

Share

You may also like...